The Idea of Power In Javanese Culture - Benedict Anderson

Tropenmuseum
Kunci-kunci penting dari pengertian orang-orang Jawa akan makna kekuasaan, dalam tiap-tiap kasusnya dikontraskan dengan pengertian Barat modern tentang hal yang sama, di mana si sana terdapat “konkrit, homogen, konstan dalam kuantitas total, dan tanpa adanya kemelekatan implikasi moral.” Salah satu bentuk aplikasinya adalah model pemimpin yang kharismatik menurut Webber, sangat dominan di fase-fase pasca-reformasi atau pasca-kemerdekaan, yang dimngerti oleh para pengikutnya sebagai sosok yang mempunyai “kuasa”, masing-masing dalam pengertian kultural.

The Idea of Power In Javanese Culture - Benedict Anderson

Salah satu karya dari Ben Anderson yang dianggap sebagai sebuah karya yang mempunyai pengaruh luas adalah sebuah tulisan yang berjudul The Idea of Power In Javanese Culture. Karya tulisnya yang satu ini juga dianggap kontroversial. Karya tersebut merupakan puncak dari upayanya dalam menunjukkan “bahwa kultur Jawa tradisional memang pernah mempunyai sebuah teori politik yang menawarkan suatu penjelasan yang sistematis dan logis atas perilaku politik yang cukup independen dipandang dari perspektif sains politik modern dan yang dalam banyak sekali hal secara fundamental bertentangan”. 

Tanda-Tanda Kekuasaan

Dalam tradisi Jawa kekuasaan adalah sesuatu yang konkrit, ada di luar dari diri seorang individu dan ada secara mandiri. Ia adalah semacam daya yang permanen di alam semesta. Semua jenis kekuasaan adalah sama. Kekuatan dari satu orang pemimpin sama dengan yang dimiliki oleh pemimpin lainnya. Ada semacam jumlah yang ditentukan akan sebuah kekuasaan di jagad raya. Ketika ada seseorang yang mendapat jumlah kekuasaan yang lebih, maka seorang lainnya berarti kehilangan daya tersebut dalam jumlah yang sama. Masalah kekuasaan bukan perihal sah atau tidak sah. Tidak ada cara yang “baik” atau “buruk” dalam meraih kekuasaan.

Ben Anderson  berargumen bahwa perbedaan antara persepsi akan waktu di masyarakat Barat dan masyarakat Jawa adalah, masyarakat Barat melihat waktu sebagai sesuatu yang berjalan lurus dan terus maju, sedangkan masyarakat Jawa melihat waktu sebagai sebuah lingkaran, pengulangan kekuasaan.

Salah satu indikator seseorang dikatakan mempunyai kekuasaan adalah dengan kepemilikan atas benda-benda yang dilihat sebagai benda-benda yang memiliki kekuatan besar. Tradisi Jawa mengatakan bahwa seorang penguasa (ruler) harus menjadikan dirinya sebagai pusat bagi orang-orang atau benda-benda yang dipercaya memiliki kekuatan yang tak biasa. Karena dengan berada di tengah-tengah mereka, sang penguasa dapat menyerap kekuatan yang dimiliki orang-orang atau benda-benda terebut dan menambahkannya untuk memperkuat diri mereka sendiri.

Sebuah ciri yang paling dapat jelas terlihat dari seseorang yang memiliki kekuatan yang luar biasa adalah kemampuannya dalam mempersatukan banyak hal, maksudnya, untuk mengkonsentrasikan kekuatan personalnya, untuk menyerap kekuatan dari luar, dan untuk mengharmonisasi gejolak-gejolak dan benturan-benturan dalam dirinya, yang dapat menjadi distraksi. Seorang penguasa yang berhasil haruslah mampu untuk menyatukan yang lama dengan yang baru, yang liberal dan yang konservatif. Seseorang dengan kuasa haruslah mengeluarkan tenaga sesedikit mungkin. Ia akan mengutarakan perintah-perintahnya sebagai permintaan-permintaan, meskipun itu semua akan dimengerti orang sebagai sebuah perintah. Gaya administrasi orang Jawa ditandai dengan upaya pencitraan akan sesedikit mungkin tenaga yang dikeluarkan.

Agar dapat mengerti betul dan mencerna ide tentang kekuasaan dalam khasanah kosmologi masyarakat Jawa dan ditingsinya dengan konsep kekuasaan masyarakat Barat modern. Anderson menggambarkan konsep-konsep tersebut sebagai hal yang kontradiktif, sebagaimana gambaran berikut:

Konsep Barat Modern
Konsep Masyarakat Jawa
        Kekuasaan ialah hal yang abstrak
       Kekuasaan ialah hal yang konkret
       Sumber kekuatan adalah heterogen
      Kekuatan adalah homogen
        Akumulasi kekuatan tidak mempunyai batas yang melekat
      Jumlah kekuasaan di alam semesta adalah konstan
        Kekuasaan adalah ambigu secara moral
       Kekuasaan tidak mempertanyakan keabsahan

Gagasan Kekuasaan Jawa

Berbeda dengan tradisi teori politik Barat, masalah pokok yang ditimbulkan  konsepsi mengenai kekuasaan ini bukan masalah bagaimana mengunakan kekuasaan, melainkan bagaimana menghimpunnya, sebagian besar perpustakaan nasional lebih berbicara bagaimana memusatkan dan mempertahankan kekuasaan, dari pada bagaimana mengunakannya dengan wajar.
Menurut tradisi ortodoks mengunakan kekuasaan mengunakan praktek yoga atau bertapa di gua-gua, walaupun praktek-praktek yoga berbeda-beda bentuknya digunakan diberbagai daerah di Jawa, termasuk bersemedi, puasa, tidak melakukan hubungan seksual, pemurnian ritual yang mengunakan sesajian terdapat satu dasar pokok yang mendasarinya.
Analogi ini amat tepat karena pelukisan klasik dalam kebudayaan Jawa bertapa dengan amat keras memang mempunyai kemampuan untuk menimbulkan panas fisik. Sebagaimana orang yang mampu membuat keris dengan indah melalui kekuatan yang terpusat pada ibu jarinya.
Arti kejiwaan dalam bertapa bukan berarti bentuk penyiksaan diri dengan tujuan-tujuan etis, melainkan hanya semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan, bertapa dalam konsep Jawa merupakan cara untuk mencapai titik keseimbangan  kosmos, membesarkan diri berarti mengurangi diri sendiri.

Menurut tradisi Jawa lama penguasa harus mengumpulkan disekelilingnya benda atau orang pun yang mengandung kekuasaan. Seperti kraton sampai sekarang setiap tahunnya ada pencucian kris, kraton yang tidak saja mengkoleksi benda-benda pusaka seperti tombak, alat-alat suci yang lainnya tetapi juga diisi oleh berbagai macam manusia yang luar biasa seperti Bulai, pelawak orang kerdil dan ahli nujum yang tinggal secara bersama dengan kraton, maka akan muncul sebuah kekuasaan yang dihisap melalui benda-benda dan orang-orang tadi yang kemudian diserap dan ditambahkan kepada kekuasaan penguasa. Kalau kemudian benda ini hilang maka ini diangap berkurangnya kekuasaan raja dan sering diangap sebagai datang pertanda akan hancurnya dinasti yang sedang berkuasa.

Tradisi ini masih tetap kita rasakan rohnya pada elit-elit atau pejabat dari Jawa dan juga merupakan rahasia lagi bagi para pengamat situasi di zaman Soekarno. Tetapi barangkali dari segi politik yang penting adalah seseorang yang dianggap punya benda atau orang-orang seperti itu dalam penguasaanya, walaupun mereka tidak mempunyai atau mempergunakan dengan sunguh-sunguh.
Berangkat dari observasi Ben Anderson, penulis memusatkan makalah ini pada dua hal, yakni: (1) perjalanan memperoleh kekuasaan, dan (2) Penguasa dan Yang Dikuasai. Dengan sengaja penulis mengambil poin-poin tersebut dengan tujuan untuk menyoroti mereka dari perspektif Webberian tentang kharisma. Perjalanan meraih kekuasaan ditempuh dengan cara paratek-praktek aesketik. Konsepsi akan konsentrasi berkorelasi erat dengan gagasan kesucian yang berbeda dengan kenajisan, difusi, dan disintegrasi. Oleh karena itu, pemimpin yang ideal adalah orang yang kekuatan kosmiknya dapat menyerap semua elemen yang bertentangan di alam semesta dan mengumpulkan mereka ke dalam karakternya. Disintegrasi sosial sebenarnya merupakan tanda bahwa ia tidak mampu mengkonsentrasikan karisma tersebut dalam dirinya.

Sebagai pelaksanaan kekuasaan, masyarakat Jawa membangun pembagian peran sosial antara penguasa dan yang dikuasai, antara patron dan klien, dan antara priyayi dan petani. Pembagian sosial memiliki fungsi untuk menata kehidupan sosial, sementara tetap menekankan pada peran utama kelas penguasa. Ben Anderson mencatat:
“the economic base of the priyayi ruling class was not independent landownership but the system of appanage benefices.”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "The Idea of Power In Javanese Culture - Benedict Anderson"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

google.com, pub-6696820318277365, DIRECT, f08c47fec0942fa0